Archive for the ‘tentang aku’ Category

h1

Karunia itu bernama Rishang Athaya Wardhana

February 16, 2012

Namanya Rishang Athaya Wardhana. Lahir tanggal 10 Januari 2012. Sempat menyandang nama sebagai anonim selama kurun waktu 5 x 24 jam karena orang tuanya bingung menentukan nama yang akan disandangnya.

Tidak mudah ternyata untuk menentukan nama yang disandang oleh anak kita. Nama yang akan disandangnya seumur hidup.Nama yang mampu mewakili karakter dan doa atau harapan dari orang tua kepadanya saat ia besar nanti. Ada beberapa kandidat nama yang telah disiapkan namun kami masih tetap ragu dalam menggunakannya atau dalam perangkaiannya. Hingga pada saat 24 jam ke lima kami bisa memutuskan nama yang disematkan pada anak kami. Rishang Athaya Wardhana. Read the rest of this entry ?

h1

Fotografer Abal-Abal

November 14, 2010

Fotografer Abal-abal atau Fotografer Kacangan atau dapat didefinisikan sebagai tukang potret kelas terendah adalah sebutan yang pantas buat saya. Meskipun masuk dalam kelas abal-abal saya tidak pernah jera untuk pamer atas ke-abal-abal-an saya. Mungkin karena darah ini sudah terinfeksi penyakit Narsis kronis komplikasi dengan putusnya urat malu.

Diperkenalkan pada dunia fotografi sejak masih kecil, namun hanya sebagai objek bidikan. Berubah peran sebagai pembidik sejak duduk di bangku kuliah.

Saat itu ada seorang rekan yang memperkenalkan saya dengan dunia ambil gambar statis. Rekan saya bercerita banyak tentang tekhnik fotografi. Waktu dia menyampaikan pengetahuannya memang terlihat biasa saja. Biasa dalam arti karena saya masih asing dengan kata-kata yang ia pakai. Saat dia menunjukkan hasil jepretannya saya merasa biasa saja.  Biasa dalam arti, dengan kamera yang dia miliki tentu mudah mendapatkan setiap momen  yang menarik. Namun saya tertarik di akhir ceritanya. Dia tidak punya kamera. Kamera tersebut milik temannya. Read the rest of this entry ?

h1

gak punya bukan alasan gak bisa

November 12, 2010

Saat menapakkan kaki naik dari jenjang SMA ke perguruan tinggi saya memiliki beban moral yang sangat tinggi. Sebuah pertanyaan besar menggelayuti dan membebani tubuh ini menyandang status baru sebagai mahasiswa. Sebuah pertanyaan apakah orang tua saya sanggup membiayai 2 orang anaknya yang kuliah di perguruan tinggi.

Orang tua saya hanya seorang wirausahawan yang gagal. Pendapatan harian hanya cukup untuk makan sehari-hari bahkan sering kurang. Sempat sebelum kuliah saya bertekad untuk lebih membantu orang tua dengan bekerja dulu tapi dilarang keras oleh orang tua dan kakak. Dan saya pun akhirnya memasuki gerbang perguruan tinggi di tahun 2001.

Saat semester pertama, ada beberapa buku yang wajib dibeli/wajib dimiliki sebagai buku pegangan. Harganya sebenarnya tidak terlalu tinggi bagi orang lain. Tetapi bagi saya sangat berharga sekali dan tak berani rasanya untuk meminta uang saku tambahan dari orang tua untuk membeli buku-buku tersebut. Entah ada angin apa saya segera teringat cerita orang tua saya yang inti/pesan dari cerita itu adalah untuk bisa, tidak harus memiliki. Read the rest of this entry ?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.