
Pusing mikirin kerja yang nggak dateng-dateng, hari Rabu kemaren aku dan salah seorang teman jalan-jalan ke New York (karto). Bareng temen cewek, namanya Itawan Sukine’. Jalan, menelusuri jalan Malioboro dari ujung ka ujung. Keluar masuk dept sore yang jumlahnya seabreg, jumlah lantainya nggak kehitung, dan luas areanya yang sudah nggak terukur lagi.
Di awali dari salah satu ujung Malioboro, Pasar Beringharjo. Masuk Pasar Beringharjo yang dipenuhi oleh pembeli dan pedagang batik. Pffuihhh! Gerah banget. Keringat mengucur dari segala penjuru wajah ini. Mungkin darahku juga ikut mendidih. Walhasil akupun merasa dehidrasi, kehausan. Air minum kemasan abis dalam sekali tenggak. Kakipun sudah cukup kewalahan menyusuri pasar Beringharjo, mengunjungi tiap pedagang dan berharap ada yang sudah kelebihan untung, jadi kita bisa dapat dengan harga paling murah. Dasar apes. Ternyata nggak ada pedagang yang kelebihan untung saat itu.
Akhirnya satu buah daster batik berhasil kami bawa pulang. Aku pun terbebas dari siksa api neraka Beringharjo. Namun ternyata penderitaanku tidak selesai di situ. Aku sekarang jadi tahu apa arti peribahasa lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Aku harus berjalan di sepanjang trotoar yang berjubel dengan barang dagangan, pembeli dan pejalan kaki.
Bayangkan, emperan toko yang hanya selebar 2-3 meter, dikanan-kirinya digunakan sebagai lapak oleh para penjual, menyisakan luas sekitar 1-1.5 meter untuk jalan 2 arus dan arena bertransaksi.
Pikiran harus selalu penuh konsentrasi supaya HP jadul dan dompet yang cuma berharga di surat-suratnya doang, nggak berpindah tangan ke orang lain.
Di saat aku sudah terkulai lemah, kulihat Sukine masih gegap gempita beradu mulut, menawar dagangan si penjual. Dengan penuh semangat ia pun mengajakku masuk ke beberapa departemen store. Entah apa yang dilakukan temanku yang satu ini. Hanya sekedar menghitung jumlah lantai ataukah menghitung luas setiap dept. store atau menghitung SPG yang jaga dalam setiap dept store. Yang jelas kakiku mulai berkhianat dengan perintah otak.
Entah sudah berapa kilometer aku berjalan. Entah sudah berapa kilogram asam laktat terkumpul di kakiku yang imut dan lucu ini. Semangatku untuk jalan-jalan di kota yang indah ini telah tergerogoti oleh kawanku yang hobi shopping ini.
Di dalam setiap dept store aku melihat beberapa wajah pria, entah itu suami atau pemuda in relationship berwajah murung. Gak jelas juga apa yang sedang dimurungkannya. Tetapi dari wajah mereka tergambar jelas kelelahan meladeni nafsu teman wanitanya yang sedang bergairah untuk belanja.
Langkahku terseok-seok, tertatih-tatih namun aneh bin ajaib tidak ada sedikitpun parameter lelah yang dapat teramati pada tubuh dan organ tubuh dari Sukine. Padahal jika bukan urusan shopping, jalan datar yang cuma berjarak 100 meter aja wajib bin fardhu kudu naik angkot. Capek katanya. Oh my God!!! Inikah yang namanya Girls Power?