Archive for the ‘gelitikan bibir’ Category

h1

The Master Pandemic

May 12, 2009

the-matrix

Demam The Master (acara yg menampilkan berbagai aliran magic di salah satu stasiun TV swasta) (saya gak nyebutin RCTI lho ya) begitu terasa akhir-akhir ini. Karena acara itu juga semua tergila-gila dengan ilmu sulap, termasuk saya.

Bagi saya sulap apapun alirannya hanya menjual rasa penasaran para penontonnya. Kok bisa, trus kemana ya, apa gak sakit ya, kok bisa gak sakit ya?. Beberapa pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang paling banyak muncul dalam setiap benak penontonnya. Read the rest of this entry ?

h1

permen mata uang baru Indonesia

October 21, 2008

Mungkin sebagian besar dari Saudara telah mengalami hal dimana saat kita berbelanja di sebuah retail, swalayan, atau bahkan di warung sebelah rumah kita, mendapat kembalian berupa sebuah, dua buah atau tiga buah permen yang senilai dengan seratus, dua ratus, tiga ratus rupiah. Nah!! Saudara pasti ingat bukan, betapa jengkel dan setengah pasrahnya hati kita saat menerima kembalian berupa permen.

Kita sering abai dengan hal sepele tersebut, namun menurut salah satu segmen berita di salah satu stasiun televisi swasta menyebutkan bahwa sekecil apapun hal tersebut tergolong dalam pelanggaran hak-hak konsumen.

Entah sejak kapan praktek ini berjalan namun yang jelas permen kini telah menjadi mata uang baru (sebagai alat tukar baru) dalam proses jual beli. Kurs (nilai tukar) yang berlaku untuk saat ini di pasaran adalah 1 buah permen senilai dengan 100 rupiah.

Mungkin jika permen mampu bertahan dengan fungsinya sebagai pengganti uang receh, permen dapat menjadi mata uang baru di Indonesia.

gambar : from ndobos.com

h1

Girls Power

August 19, 2008

Pusing mikirin kerja yang nggak dateng-dateng, hari Rabu kemaren aku dan salah seorang teman jalan-jalan ke New York (karto). Bareng temen cewek, namanya Itawan Sukine’. Jalan, menelusuri jalan Malioboro dari ujung ka ujung. Keluar masuk dept sore yang jumlahnya seabreg, jumlah lantainya nggak kehitung, dan luas areanya yang sudah nggak terukur lagi.

Di awali dari salah satu ujung Malioboro, Pasar Beringharjo. Masuk Pasar Beringharjo yang dipenuhi oleh pembeli dan pedagang batik. Pffuihhh! Gerah banget. Keringat mengucur dari segala penjuru wajah ini. Mungkin darahku juga ikut mendidih. Walhasil akupun merasa dehidrasi, kehausan. Air minum kemasan abis dalam sekali tenggak. Kakipun sudah cukup kewalahan menyusuri pasar Beringharjo, mengunjungi tiap pedagang dan berharap ada yang sudah kelebihan untung, jadi kita bisa dapat dengan harga paling murah. Dasar apes. Ternyata nggak ada pedagang yang kelebihan untung saat itu.

Akhirnya satu buah daster batik berhasil kami bawa pulang. Aku pun terbebas dari siksa api neraka Beringharjo. Namun ternyata penderitaanku tidak selesai di situ. Aku sekarang jadi tahu apa arti peribahasa lepas dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau. Aku harus berjalan di sepanjang trotoar yang berjubel dengan barang dagangan, pembeli dan pejalan kaki.

Bayangkan, emperan toko yang hanya selebar 2-3 meter, dikanan-kirinya digunakan sebagai lapak oleh para penjual, menyisakan luas sekitar 1-1.5 meter untuk jalan 2 arus dan arena bertransaksi.

Pikiran harus selalu penuh konsentrasi supaya HP jadul dan dompet yang cuma berharga di surat-suratnya doang, nggak berpindah tangan ke orang lain.

Di saat aku sudah terkulai lemah, kulihat Sukine masih gegap gempita beradu mulut, menawar dagangan si penjual. Dengan penuh semangat ia pun mengajakku masuk ke beberapa departemen store. Entah apa yang dilakukan temanku yang satu ini. Hanya sekedar menghitung jumlah lantai ataukah menghitung luas setiap dept. store atau menghitung SPG yang jaga dalam setiap dept store. Yang jelas kakiku mulai berkhianat dengan perintah otak.

Entah sudah berapa kilometer aku berjalan. Entah sudah berapa kilogram asam laktat terkumpul di kakiku yang imut dan lucu ini. Semangatku untuk jalan-jalan di kota yang indah ini telah tergerogoti oleh kawanku yang hobi shopping ini.

Di dalam setiap dept store aku melihat beberapa wajah pria, entah itu suami atau pemuda in relationship berwajah murung. Gak jelas juga apa yang sedang dimurungkannya. Tetapi dari wajah mereka tergambar jelas kelelahan meladeni nafsu teman wanitanya yang sedang bergairah untuk belanja.

Langkahku terseok-seok, tertatih-tatih namun aneh bin ajaib tidak ada sedikitpun parameter lelah yang dapat teramati pada tubuh dan organ tubuh dari Sukine. Padahal jika bukan urusan shopping, jalan datar yang cuma berjarak 100 meter aja wajib bin fardhu kudu naik angkot. Capek katanya. Oh my God!!! Inikah yang namanya Girls Power?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.