Archive for the ‘buah tangan’ Category

h1

good morning, the very good morning!

October 15, 2008

Pagi hari yang cerah, embun yang berlarian karena dikejar-kejar sinar mentari seperti bencong dikejar tramtib. Gue keluar rumah sekedar buat menikmati keindahan pagi saat itu. Gue lihat Babe duduk di kursi roda, berada di beranda samping rumah. Pandangannya jauh dan terlihat kosong. Entah kemana pikirannya dia fokuskan. Gue berjalan mendekati pria yang sedang kesepian itu. Gue duduk di sebelahnya. Duduk di sebuah kursi dari kayu, unik, berukirkan beberapa ekor burung. Kata babe burung adalah sebuah simbol kebebasan, kekuatan yang tidak menaklukkan.

Gue menyapa babe, memecahkan lamunan yang sudah susah payah ia buat sedari pagi tadi.

“Udah sarapan, be?”

“Belom, babe masih kenyang. Gimana kuliah kamu nak?Lancar-lancar aja to?”

“Alhamdulillah, be, lancar-lancar aja. Zico ambilin sarapan ya be. Babe kan harus banyak makan sama minum obat biar cepet sembuh.”

Gue udah lama banget nggak omong-omongan sama babe gue, karena usahanya yang sangat menyita waktunya. Tapi dalam waktu yang hanya sedikit itu tidak membuatnya menghilangkan kesempatan untuk bersama keluarga. Bagi babe keluarga adalah segalanya. Read the rest of this entry ?

h1

kabar buruk

May 27, 2008

Thittttiiiiiitttt….thitttttiiiittttttiiiittt

Hapeku bergetar, berdering, berkedap-kedip. Di layar tertulis NYOKAP

“Halo. Assalamuaaikum. Ada apa nyak?”

“Waalaikumsalam. Gimana kabarmu di sana, nak?”

“Alhamdulillah Zico baik, Nyak. Nyak ma Babe gimana kabarnya?”

“Nyak baik-baik aja, Nak”

“Gimana kuliahnya, lancar-lancar aja kan? Kapan kamu bisa pulang? Babe dan Enyak sudah kangen”

“Wah kalau minggu-minggu ini Zico nggak bisa nyak. Ada banyak praktikum”

“Oh ya sudah. Nanti kalau kamu sudah longgar jangan lupa balik ke Jakarta, Babe dan Enyak sudah kangen sama kamu ya nak”

“OK, deh nyak ntar Zico pulang kalau ada waktu”

“Ya sudah hati-hati disana ya, belajar yang rajin, jaga kesehatan, shalat yang rajin dan perbanyak baca Al Quran biar hati kamu tenang”

“Beres bos!”

“Assalamuaaliakum”

“Waalaikumsalam”

Thiiitttiiiitttttiiittttt….thiiitttiiitttiiitt

Hapeku bunyi lagi, MPOK AYE muncul dilayar.

“Assalamualaikum. Ada apa mpok?”

“Kata Enyak lu sibuk dan nggak bisa pulang ya?Sesibuk apapun lu, besok lu harus pulang. Babe sakit, sekarang masuk rumah sakit”

“Lho kenapa tadi Enyak nggak ngomong ke gue?”

“Tadi Enyak ngomong ke gue. Katanya gue nggak usah kasih tau elu dulu, takut ganggu kuliah lu”

“Iya. . ya besok gue minta izin kampus dulu, dan secepatnya balik rumah”

“Ya udah awas lu ya kalau nggak balik!”

“Iya..iya Insya Allah “

Dunia terasa bergetar, langit serasa mau runtuh, langit melahirkan petir-petir yang menyambar hati gue. Hati gue hancur remuk karena hantaman listrik berkekuatan ribuan megavolt itu. Dalam kepanikan gue segera ngasih kabar Sakti buat bikinin gue surat izin nggak masuk kuliah dalam beberapa hari ini ke jurusan. Gue segera berkemas, masukin Shogy ke dalam garasi kos, dengan angkutan kota gue menuju ke stasiun dan memesan ticket karcis yang paling awal.
Pagi hari gue sampe Jakarta, kebetulan Kakak gue sudah nungguin buat jemput gue. Mobil kijang innova hitam itu segera meluncur di tengah kota yang saat itu masih lenggang. Kami berdua langsung menuju rumah sakit dimana Babe dirawat.

Babe berbaring di tempat tidur, Enyak sedang tertidur saat kami datang. Tidur dengan duduk, menunggui Babe. Tangan kanannya memegang tangan Babe yang diatasnya tertusuk selang infus. Kakak gue menyelimuti tubuh perempuan yang kami sebut sebagai Enyak, Ibu yang selalu penuh kasih sayang membesarkan dan mendidik kami. Enyak pun terbangun karenanya.

“Eh kalian, Kapan datang?”

“Baru saja kok Nyak”

Kami berduapun mencium tangan yang penuh dengan kehangatan itu. Di tengah kegalauan hatinya pun beliau tersenyum melihat kami yang sudah besar-besar.

“Kalian sudah besar-besar dan Enyak bersyukur kalian jadi anak yang baik-baik dan penurut. Enyak bangga punya kalian”

“itu juga kan karena Enyak yang mendidik kami” kakak gue berkata bijaksana.

“Kalian sudah makan? Zico kamu sudah makan nak?”

“Eh belum Nyak, Entar aja beli di warung Bakmi depan. Enyak udah makan belum. Sekalian Zico beliin ya?”

“Sana beliin bakmi goreng 3 dibungkus, kebetulan gue juga belum makan.” Kakak gue ngeluarin uang 50 ribuan dan dikasihin ke gue.

“Eh Co. Gak pake lama ya”

“OK Bos”

Kami bertiga menikmati Bakmi goreng yang baru gue beli di depan rumah sakit. Enyak bercerita kalau usaha keluarga kami bangkrut, karena Babe percaya sama salah satu teman sekolahnya dulu dan meminjamkan sebagian modal usahanya untuk membantu orang itu. Ternyata orang tersebut melarikan diri. Babe shock sampe beberapa bulan ini dia terus berfikir apa ia pernah punya salah dengan seseorang sehingga ini karma yang harus ia terima.

Beberapa hari terakhir Babe menunjukkan kemajuan yang sangat bagus, sehingga dokter membolehkan Babe pulang ke rumah.

h1

kantin repot

May 27, 2008

Karena nggak ada kuliah gue mampir ke kantin. Pesan Es The satu buat ngilangin haus setelah nuntun Shogy tadi.

GLEKKKK

“Ahhh. Seger”

Bakwan goreng yang ada di depan mata gue samber, gue sikat sampe abis diselingi dengan gigitan cabai rawit yang pedas. Oh nikmatnya.
Kemudian datang segerombolan cewek yang baru selesai dari kuliah. Dari pembicaraannya jelas kalau mereka adalah mahasiswi-mahasiswi Matematika semester 1. Berisik banget, semuanya saling berebut buat ngomong. Ada yang ngomongin tentang kuliah hari ini, ada yang ngomongin tugas kalkulus yang susah, ada yang ngomongin dosen idola mereka, ada juga yang ngomongin gosip terpanas hari ini.
Belum selesai pusing gue ngeliat gerombolan mahasiswi matematika tadi, dateng segerombolan anak-anak Kimia yang juga saling berebut ngomong. Dilihat dari anatominya sih cowok tapi cerewetnya kaya ibu-ibu PKK yang baru dapet gosip terbaru tentang sekandal tetangganya. Satu diantaranya memiliki gerak-gerik kecewek-cewekan. Gue sempet berfikir apa Tuhan salah nginstal program cowok dalam diri orang itu ya?

“Hai nyet” Sakti menyapa gue

“Hai Sak. Tadi lu ikut kuliah Biologi Umum Pak Dedy?”

“Wah ikut dong, gue kan mau jadi Sarjana yang lulus 4 tahun. Nggak kaya lu yang males-malesan kuliah”

“Sialan lu. Gue tadi bangun dan berangkat tepat waktu Sak. Tapi waktu gue berangkat ban motor gue bocor”

“Ada aja lu alesannya!”

Lagi asyik ngobrol sama Sakti, tiba-tiba dateng segerombolan mahasiswa-mahasiswi yang gue gak tau dari jurusan mana, tapi kalo gue gak salah tebak mereka dari angkatan atas. Ada beberapa mahasiswa yang memberikan salam hormat kepada mereka. Dari mukanya mereka kelihatan kejam, bengis dan yang jelas ruwet, mungkin sedang sibuk mikirin draft TA yang ditenteng dalam folder bening di tangan kanannya.

Kantin yang semula sepi, menjadi penuh sesak dan berisik. Gue yang duduk paling ujung dekat dengan pintu harus memindah-mindahin tempat tas gue karena banyak orang yang keluar masuk ke kantin ini. Harus berdiri sejenak kalo ada orang yang keluar atau masuk supaya dia bisa keluar atau masuk

“Repot amat sih” Gue dan Sakti ngomong hampir bersamaan.

“Ha ha ha” Kami tertawa karena kata tersebut.

“Cabut yuk.” Ajak Sakti

“Kemana ?”

“Maen PS !”

“Boleh, yang kalah nraktir Mie Ayam ya?”

“OK. Sapa takut”

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.