Thittttiiiiiitttt….thitttttiiiittttttiiiittt
Hapeku bergetar, berdering, berkedap-kedip. Di layar tertulis NYOKAP
“Halo. Assalamuaaikum. Ada apa nyak?”
“Waalaikumsalam. Gimana kabarmu di sana, nak?”
“Alhamdulillah Zico baik, Nyak. Nyak ma Babe gimana kabarnya?”
“Nyak baik-baik aja, Nak”
“Gimana kuliahnya, lancar-lancar aja kan? Kapan kamu bisa pulang? Babe dan Enyak sudah kangen”
“Wah kalau minggu-minggu ini Zico nggak bisa nyak. Ada banyak praktikum”
“Oh ya sudah. Nanti kalau kamu sudah longgar jangan lupa balik ke Jakarta, Babe dan Enyak sudah kangen sama kamu ya nak”
“OK, deh nyak ntar Zico pulang kalau ada waktu”
“Ya sudah hati-hati disana ya, belajar yang rajin, jaga kesehatan, shalat yang rajin dan perbanyak baca Al Quran biar hati kamu tenang”
“Beres bos!”
“Assalamuaaliakum”
“Waalaikumsalam”
Thiiitttiiiitttttiiittttt….thiiitttiiitttiiitt
Hapeku bunyi lagi, MPOK AYE muncul dilayar.
“Assalamualaikum. Ada apa mpok?”
“Kata Enyak lu sibuk dan nggak bisa pulang ya?Sesibuk apapun lu, besok lu harus pulang. Babe sakit, sekarang masuk rumah sakit”
“Lho kenapa tadi Enyak nggak ngomong ke gue?”
“Tadi Enyak ngomong ke gue. Katanya gue nggak usah kasih tau elu dulu, takut ganggu kuliah lu”
“Iya. . ya besok gue minta izin kampus dulu, dan secepatnya balik rumah”
“Ya udah awas lu ya kalau nggak balik!”
“Iya..iya Insya Allah “
Dunia terasa bergetar, langit serasa mau runtuh, langit melahirkan petir-petir yang menyambar hati gue. Hati gue hancur remuk karena hantaman listrik berkekuatan ribuan megavolt itu. Dalam kepanikan gue segera ngasih kabar Sakti buat bikinin gue surat izin nggak masuk kuliah dalam beberapa hari ini ke jurusan. Gue segera berkemas, masukin Shogy ke dalam garasi kos, dengan angkutan kota gue menuju ke stasiun dan memesan ticket karcis yang paling awal.
Pagi hari gue sampe Jakarta, kebetulan Kakak gue sudah nungguin buat jemput gue. Mobil kijang innova hitam itu segera meluncur di tengah kota yang saat itu masih lenggang. Kami berdua langsung menuju rumah sakit dimana Babe dirawat.
Babe berbaring di tempat tidur, Enyak sedang tertidur saat kami datang. Tidur dengan duduk, menunggui Babe. Tangan kanannya memegang tangan Babe yang diatasnya tertusuk selang infus. Kakak gue menyelimuti tubuh perempuan yang kami sebut sebagai Enyak, Ibu yang selalu penuh kasih sayang membesarkan dan mendidik kami. Enyak pun terbangun karenanya.
“Eh kalian, Kapan datang?”
“Baru saja kok Nyak”
Kami berduapun mencium tangan yang penuh dengan kehangatan itu. Di tengah kegalauan hatinya pun beliau tersenyum melihat kami yang sudah besar-besar.
“Kalian sudah besar-besar dan Enyak bersyukur kalian jadi anak yang baik-baik dan penurut. Enyak bangga punya kalian”
“itu juga kan karena Enyak yang mendidik kami” kakak gue berkata bijaksana.
“Kalian sudah makan? Zico kamu sudah makan nak?”
“Eh belum Nyak, Entar aja beli di warung Bakmi depan. Enyak udah makan belum. Sekalian Zico beliin ya?”
“Sana beliin bakmi goreng 3 dibungkus, kebetulan gue juga belum makan.” Kakak gue ngeluarin uang 50 ribuan dan dikasihin ke gue.
“Eh Co. Gak pake lama ya”
“OK Bos”
Kami bertiga menikmati Bakmi goreng yang baru gue beli di depan rumah sakit. Enyak bercerita kalau usaha keluarga kami bangkrut, karena Babe percaya sama salah satu teman sekolahnya dulu dan meminjamkan sebagian modal usahanya untuk membantu orang itu. Ternyata orang tersebut melarikan diri. Babe shock sampe beberapa bulan ini dia terus berfikir apa ia pernah punya salah dengan seseorang sehingga ini karma yang harus ia terima.
Beberapa hari terakhir Babe menunjukkan kemajuan yang sangat bagus, sehingga dokter membolehkan Babe pulang ke rumah.